Unand - KBRI Yangon Bahas Pemberian Beasiswa bagi Mahasiswa Myanmar

Unand - KBRI Yangon Bahas Pemberian Beasiswa bagi Mahasiswa Myanmar
Duta Besar RI untuk Myanmar Prof. Dr. Iza Fadri

PADANG – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon menyelenggarakan webinar dengan tajuk Pentingnya Peran dan Keberlangsungan Indonesian International School Yangon (IISY) dalam diplomasi Indonesia di Myanmar. 

Acara yang diselenggarakan pada Selasa (14/07/2020) secara virtual ini merupakan respon atas surat yang pernah dikirimkan oleh Universitas Andalas pada bulan September 2019 yang lalu terkait rencana kerja sama pemberian beasiswa bagi mahasiswa Myanmar. 

Kepala UPT Layanan Internasional Universitas Andalas Vonny Indah Mutiara, Ph. D mengatakan webinar ini bertujuan untuk mendiskusikan penetapan dan penerapan kebijakan terkait IISY di masa mendatang dengan para stakeholders. 

Disebutkannya dalam acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, Kemendikbud, Atase Pendidikan RI Bangkok, Kerukunan Indonesia Myanmar, Notaris Pembentukan Yayasan PIMY, Kepala Sekolah IISY, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Padang, dan 4 institusi dari Aceh (Universitas Syah Kuala, Universitas Malikussaleh, UIN Ar-Raniry dan Universitas Almuslim).

Lebih lanjut, ia menyampaikan IISY ini aktif mempromosikan universitas-universitas yang ada di Indonesia kepada peserta didiknya yang mayoritas siswa lokal. Sehingga, diantara lulusan dari IISY, sudah ada yang langsung melanjutkan pendidikannya ke berbagai universitas di Indonesia melalui berbagai skema beasiswa.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Myanmar Prof. Dr. Iza Fadri mengatakan IISY merupakan sekolah yang dikelola oleh KBRI Yangon dan didirikan pertama kali pada tahun 1967 dengan nama Duta Teruna. 

“Awalnya sekolah ini dimaksudkan untuk mendidik putra-putri dari staf KBRI di Myanmar,” terangnya. 

Dalam perkembangannya, tepatnya pada tahun 2004-2005, IISY mulai menerima peserta didik international. 

Saat ini IIYS memiliki siswa sektar 300 orang lebih,  dimana mayoritas siswa adalah WNA (siswa lokal Myanmar dan siswa dengan warga negara lainnya). 

Prof. Dr. Iza Fadri mengungkapkan siswa yang berstatus WNI sendiri hanya berjumlah 37 orang (mulai dari TK sampai SMA). 

Kemudian siswa yang berstatus WNA terdiri atas: siswa lokal Myanmar 341 orang, siswa yang berasal dari India 2 orang, Timor Leste 2 orang, Singapura 2 orang), Philipina 1 orang dan Bulgaria 1 orang. 

Terkait guru yang mengajar di IIYS, hanya 10 orang yang merupakan WNI, sisanya 37 guru merupakan WNA.

Menurutnya, animo masyarakat untuk bersekolah di IIYS sangat baik, salah satu faktor penarik adalah adanya pelajaran agama dan bahasa Indonesia di IISY. 

“Ini berbeda dengan sekolah-sekolah internasional lainnya yang ada di Myanmar yang tidak memiliki mata pelajaran agama,” ujarnya. 

Selain itu, SPP di IISY lebih terjangkau disbanding International schools lainnya biasa membebankan biaya sampai 700-800 USD per bulan (IISY hanya mengenakan biaya sebesar 100 USD). 

Senada dengan itu, Rektor Universitas Andalas Prof. Dr. Yuliandri, SH, MH mengatakan  kesempatan ini harus bisa dimanfaatkan, apalagi jika IISY sudah menjadi Cambridge School nantinya. 

IISY akan menjadi pasar potensial yang semakin penting dalam rangka mendapatkan calon mahasiswa internasional yang mau melanjutkan pendidikannya di Universitas Andalas. 

Disamping itu, Rektor menyampaikan sebagai langkah awal dari kerjasama ini, maka Universitas Andalas akan memberikan beasiswa kepada 11 orang calon mahasiswa dari Myanmar setelah para calon mahasiswa tersebut mengikuti proses seleksi administrasi dan seleksi akademik sesuai dengan peraturan akademik yang berlaku. 

Pengembangan kerja sama dengan IISY, KBRI Yangon dan pihak lainnya juga perlu ditingkatkan dalam rangka mendukung proses internasionalisasi Universitas Andalas.(unand.ac.id)